Dari Sumpah Pemuda ke Sumpah "Gue Bisa Apa?"
Peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar upacara bendera, saatnya anak muda merajut kembali persatuan lewat karya nyata.
Tiap tanggal 28 Oktober, ritualnya nyaris sama di sekolah kita: berdiri tegak di lapangan upacara, mendengarkan pembacaan teks Sumpah Pemuda, lalu mengenakan atribut rapi. Selesai upacara? Biasanya kembali ke rutinitas biasa atau langsung melipir ke kantin demi secangkir es teh manis.
Pertanyaannya, apakah Sumpah Pemuda hari ini masih relevan dengan realitas kita, atau sudah bergeser jadi sekadar seremonial tahunan yang numpang lewat begitu saja?
Kalau ditarik garis lurus ke masa lalu, para pemuda tahun 1928 dulu berkumpul di tengah keterbatasan luar biasa demi satu kata kunci: terhubung. Tanpa gawai canggih, tanpa sinyal seluler yang kuat, mereka sepakat melepas ego kedaerahan; Jawa, Sumatra, Maluku, Bali, bersatu jadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Nah, ironisnya, hari ini kita hidup di era di mana dunia seolah-olah ada di dalam genggaman tangan. Mau ngobrol dengan teman lintas pulau tinggal video call. Mau belajar komputer, desain grafis, atau cari referensi tugas sekolah bisa dalam hitungan detik. Tapi, apakah kemudahan ini bikin kita makin erat bersatu?
Seringkali justru sebaliknya. Gawai yang harusnya jadi jembatan penghubung malah menjelma jadi tembok pemisah. Kita asyik dengan gelembung media sosial masing-masing, gampang terpancing emosi gara-gara komentar warganet yang tak dikenal, atau terjebak dalam arus informasi yang belum tentu benar. Semangat persatuan kadang kalah seru dibanding berebut jadi yang paling viral.
Sebagai bagian dari keluarga besar SMAN 1 Malingping, baik guru, pegawai, maupun siswa-siswi yang kreatif, sudah saatnya kita menerjemahkan Sumpah Pemuda ke dalam bahasa keseharian kita. Sumpah Pemuda bukan cuma soal menghafal teks sejarah di buku pelajaran, tapi tentang nyali untuk berkarya dan berdampak di lingkungan terdekat.
Anak muda Malingping punya potensi yang luar biasa. Coba tengok sekeliling kita: dari embusan angin sejuk pantai selatan, obrolan santai di warung kopi sekitar alun-alun, ide-ide yang lahir dari candaan di kantin sekolah, hingga diskusi hangat di pojok laboratorium komputer sekolah, bibit-bibit kolaborasi itu selalu ada. Tinggal bagaimana kita memilih: mau jadi penonton yang gampang terpecah belah oleh algoritma gawai, atau jadi bagian dari pemuda yang merajut solusi nyata lewat hal-hal kecil yang kita kuasai?
Jadi, alih-alih cuma sibuk meratapi tren atau sekadar numpang lewat di dunia maya, yuk, mulai tanyakan pada diri sendiri di sela-sela kesibukan harian kita: apa kontribusi nyata yang bisa kita berikan hari ini untuk sekolah dan lingkungan sekitar?
Selamat Hari Sumpah Pemuda. Mari terus berkarya, tetap bersatu, dan buktikan kalau anak muda Malingping juga punya suara serta karya yang patut diperhitungkan!
Diskusi
0Belum ada diskusi untuk tulisan ini.